JUANGPOS.COM (ACEH TENGAH) – Hujan es yang disertai angin kencang kembali melanda wilayah dataran tinggi Gayo, tepatnya di Kecamatan Atu Lintang pada Sabtu sore (4/4/2026) sekitar pukul 16.30 WIB.
Akibat peristiwa itu, puluhan hektare lahan pertanian warga rusak. Selain lahan pertanian, peristiwa ini juga merusak sejumlah hunian warga di wilayah setempat.
Menurut penelusuran media ini, fenomena ini bukan pertama sekali terjadi di daratan tinggi Gayo. Peristiwa serupa juga pernah terjadi pada tahun 2014, 2019, dan 2023 di Kabupaten Aceh Tengah.
Seperti dilansirkan oleh laman lintasgayo.co/ dan acehtengahkab.go.id/, fenomena alam ini pertama sekali terjadi pada Minggu, 10 Agustus 2014, sekitar pukul 14.30 WIB yang melanda tiga desa di Kecamatan Atu Lintang, yakni Desa Atu Lintang, Kekelip dan Bintang Kekelip.
Kemudian, peristiwa serupa kembali terjadi pada tahun 2019 yang melanda enam desa di Kecamatan Atu Lintang diantaranya, desa Jeget Ayu, Paya Tungel, Paya Dedep, Bukit Kemuning dan beberapa kampung disekitarnya.
Selanjutnya, peristiwa yang melanda tiga desa di Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, kembali terjadi pada Jumat, 17 Maret 2023, sekitar Pukul 15.00 WIB, yaitu Kampung Paya Tungel, Jagong Jeget dan Paya Dedep.
Terbaru, hujan es kembali turun di wilayah Aceh Tengah, khususnya di dataran tinggi pada pada Sabtu sore, 4 April 2026, yang merusak kebun kopi dan rumah warga.
Beberapa kampung yang terdampak di antaranya Gayo Murni, Damar Mulyo, Merah Muyang, Kepala Akal, dan Atu Lintang. Hujan es turun tiba-tiba setelah hujan deras dan angin kencang, dengan butiran es berukuran cukup besar hingga sebesar kelereng, bahkan ada yang lebih besar.
Akibat hujan es, atap rumah warga yang terbuat dari seng ini mengalami kerusakan, bahkan ada yang jebol akibat tidak mampu menahan derasnya butiran es yang jatuh. Selain merusak rumah, hujan es juga menyebabkan kerusakan serius pada sektor pertanian warga.
Puluhan hektare kebun kopi dan tanaman palawija dilaporkan mengalami kerusakan, terutama pada bagian daun, cabang, serta bunga dan putik kopi yang baru tumbuh. Kondisi ini dikhawatirkan akan menyebabkan penurunan hasil panen petani pada musim panen mendatang. (*)







